Komunitas Super

Karena Ibuku adalah Perempuan

Senin, Februari 02, 2009

Tugas Baru Mengelola Suara Perempuan


Mulai Februari 2009, aku mendapat tugas baru yang menurutku sangat mulia, juga membanggakan, yaitu mengelola rubrik Suara Perempuan di harian Suara Merdeka. Mengapa mulia, mengapa membanggakan?

Bagiku perempuan adalah segalanya. Aku terlahir dari rahim seorang perempuan. Istriku yang tiada henti menemaniku di kala gembira dan nelangsa juga seorang perempuan. Bahkan aku dianugerahi tiga anak, yang semuanya perempuan. Aku pun memiliki dua kakak perempuan yang sangat sayang kepadaku, begitu pula sebaliknya.

Dengan memuliakan perempuan, setidaknya aku merasa telah memuliakan ibu, istri, ketiga anakku, maupun kedua kakakku. Sayangnya, aku belum dapat membalas segala kebaikan ibu. Beliau wafat pada tahun 1990, ketika aku sedang belajar menjadi jatidiri.

Agaknya, rasa kehilangan seorang ibu membuatku makin begitu hormat terhadap kaum perempuan. Karena ibuku, tentu saja, adalah perempuan juga. Seorang perempuan yang dulu harus membanting tulang membantu ayah, mencari nafkah. Perempuan yang kerap menghabiskan waktu istirahatnya untuk mencari uang, bahkan mengambil sebagian waktu tidurnya untuk berdoa.

Kini, segala rasa hormatku tercurahkan kepada istri, ketiga anakku, kedua kakak perempuanku, dan untuk seluruh perempuan di mana saja, khususnya di Indonesia yang umumnya masih mengalami diskriminasi dan penindasan.

Blog Suara Perempuan

Maka, mengelola rubrik Suara Perempuan adalah pekerjaan yang sangat mulia dan membanggakan, setidaknya bagi diriku. Sejak menjadi redaktur di Suara Merdeka, Juni 1993, baru sekaranglah aku berkesempatan untuk bersinggungan langsung dengan isu-isu perempuan. Selama ini hanya sekadar mengikuti saja isu tersebut, entah dari media cetak maupun media elektronik.

Bersamaan dengan pekerjaan baru tersebut, aku membangun blog Komunitas Suara Perempuan , sebagai media bertukar pikiran dengan para aktivis perempuan di seluruh Indonesia, termasuk dengan para penulis lepas (kontributor) yang selama ini setia mengirimkan naskahnya untuk rubrik Suara Perempuan di harian Suara Merdeka.

Unik juga ya, separo penulis artikel perempuan itu ternyata laki-laki. Mungkin mereka mempunyai perasaan yang sama dengan aku. Sama-sama menaruh rasa hormat terhadap perempuan, sama-sama memiliki empati atas penderitaan sebagian perempuan di Indonesia, serta sama-sama berharap agar ada peningkatan perhatian dari pengambil kebijakan terhadap nasib perempuan di negeri ini.

Berharap banyak melalui media cetak, maupun media online seperti blog ini, mungkin seperti jauh panggang dari api. Tapi suara itu penting dikumandangkan, agar tak ada waktu bagi para pengambil kebijakan dan sebagian masyarakat kita untuk menutup telinga terhadap isu kesetaraan gender yang masih setengah hati itu.

Tulisan-tulisan itu tetap diperlukan, agar tak ada waktu bagi mereka untuk menutup mata terhadap masih maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), trafficking, pelecehan seksual, dan pemerkosaan. Isu-isu untuk meningkatkan derajat kaum perempuan tak boleh berhenti, agar masuk ke dalam alam pikiran orang-orang yang masih saja menafikan peran perempuan.

Maka, blog ini dapat menjadi ajang untuk terus menggencarkan isu-isu tersebut. Tak peduli apakah Anda penulis atau bukan, aktivis perempuan atau bukan, bahkan tak peduli lelaki atau perempuan. Sepanjang masih mempercayai bahwa ibu kita adalah perempuan, maka kita harus menghormati perempuan! (*)

Label: , , , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda